×
Perlukah Guru Menuntaskan Pelatihan Mandiri di PMM?

Perlukah Guru Menuntaskan Pelatihan Mandiri di PMM?


Oleh: Lulud Prijambodo Ario Nugroho

Pengembang Teknologi Pembelajaran Balai Besar Guru Penggerak Provinsi Jawa Tengah


Platform merdeka mengajar atau biasa dikenal dengan sebutan PMM, merupakan sebuah aplikasi pembelajaran elektronik yang disiapkan bagi guru. Aplikasi PMM disiapkan oleh kementerian sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan para insan pendidikan di wilayah NKRI ini.

Aplikasi PMM dirancang untuk meningkatkan pengetahuan guru dan tenaga kependidikan (GTK) secara mandiri. Aplikasi ini, memiliki  tiga fitur utama, yaitu pelatihan mandiri, bukti karya dan perangkat ajar. Adapun semua fitur tersebut, berisi konten konten yang disediakan bagi guru supaya dapat memahami dan mengimplementasikan kurikulum merdeka. Walaupun demikian, ada satu keterampilan tambahan yang diperoleh oleh para guru, baik disadari ataupun tidak oleh mereka, yaitu keterampilan literasi digital.

Menurut pengembang, justru meningkatkan keterampilan literasi digital para guru inilah yang menjadi target utama kemdikbudristek. Upaya Kementerian untuk meningkatkan literasi digital para GTK ini, dilakukan secara serius. Betapa tidak. Supaya para GTK tidak bergantung dengan undangan pelatihan secara luring, maka seluruh Lembaga pelatihan peningkatan kompetensi bagi guru ditutup. Upaya kemdikbud untuk mentrasformasi pengetahuan para GTK tentang kurikulum merdeka, kemdikbud menyajikan melalui aplikasi PMM. Adapun strategi belajar para GTK, 70% menggunakan strategi Daring. Saat ini pelatihan peningkatan kompetensi guru terkait implementasi kurikulum merdeka alternatifnya hanya melalui pelatihan daring. Apabila masih ada kesalahan persepsi karena proses belajar mandiri mereka, silakan disamakan melalui komunitas belajar masing-masing.

Disini, para guru dimanipulasi supaya mau belajar secara mandiri. Guru diajak untuk berinteraksi langsung dengan sumber belajar selain instruktur, yaitu aplikasi pembelajaran elektronik. Melalui aplikasi ini guru, baik dengan ikhlas ataupun “terpaksa” akan berusaha meningkatkan keterampilan literasi digital masing-masing. Dan proses transformasi digital dalam pembelajaran pun berjalan.

Permasalahan mendasarnya adalah sebagian besar guru masih bingung, mengapa mereka harus belajar tentang kurikulum merdeka secara mandiri ? Terlebih dengan digunakannya strategi pembelajaran online. Bukankah secara luring lebih mudah ? Nah, sebagaimana kita ketahui Bersama, bahwa program kemdikbudristek saat ini adalah digitalisasi sekolah. Pada proses digitalisasi sekolah sebenarnya terdapat dua  program utama, yaitu a) digitalisasi pembelajaran  melalui aplikasi PMM; dan b) digitalisasi pengelolaan sekolah. Tentu saja transformasi digitalisasi sekolah bukan “hal” sederhana. Butuh waktu dan kesabaran baik dari stake holder maupun guru dan pengelola sekolah sebagai pelaku utama transformasi. Dalam tulisan sederhana ini, sengaja dikaji tentang proses digitalisasi pembelajaran saja.

Tujuan dituliskan artikel ini adalah untuk memberikan informasi tentang proses trasformasi kompetensi guru setelah mereka menuntaskan proses belajarnya secara mandiri melalui platform merdeka mengajar.  


Pembahasan

Proses transformasi pembelajaran digital berarti  merubah kebiasaan guru dalam membelajarkan siswa. Melalui PMM, guru diberi ide baru tentang cara belajar kekinian. Yakin, proses merubah kebiasaan guru, merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Mengapa? Karena budaya yang telah tumbuh di lingkungan kita selama ini adalah guru sebagai “sumber belajar utama”, pola kerja guru, Sebagian besar dibentuk saat mereka masih kuliah. Nah disana  mereka dibentuk menjadi guru tanpa harus melibatkan teknologi dalam pembelajarannya. Karena kunci sukses transformasi digital pada pembelajaran adalah tingginya keterampilan literasi digital para guru. 

Saat ini, literasi digital memiliki 4 pilar utama, yaitu etika digital, budaya digital, keterampilan digital dan keamanan digital. Nah, apakah guru harus menguasai keempat pilar tersebut? Tentu saja ya, akan tetapi proses penguasaan guru tentu saja bertahap. Sekarang, kemdikbudristek sedang mentransformasi keterampilan digital guru melalui proses pelatihan mandiri. Melalui pelatihan mandiri menggunakan aplikasi merdeka mengajar, diharapkan terjadi proses internalisasi keterampilan digital pada diri guru. Dua pilar lain pada literasi digital, ternyata juga ikut tumbuh, saat guru belajar secara mandiri, yaitu etika digital dan budaya digital.

Budaya digital ikut tumbuh pada saat guru melakukan komunikasi dengn koleganya baik secara sinkronus maupun asinkronus. Komunikasi perlu dilakukan oleh guru sebagai bentuk triangulasi hasil belajar. Karena seorang pembelajar mandiri, harus mengafirmasi hasil belajarnya secara mandiri tersebut. Salah satu Langkah paling mudah adalah adalah mengkomunikasikan hasil belajarnya baik melalui media social, atau diskusi online melalui komunitas belajar guru. Disini guru membangun budaya digital melalui komunitas belajar masing masing.

Etika digital, muncul saat guru saling mengklarifikasi hasil belajarnya. Hasil belajar guru diwujudkan dalam bentu karya nyata, aksi nyata dan video inspirasi. Pada proses digital ini, guru belajar untuk saling menghormati karya masing masing. Setiap guru akan belajar menunjukkan hasil belajarnya tanpa berupaya untuk “memplagiasi” kasil kerja koleganya. Sementara untuk keamanan digital, sepertinya belum tumbuh (berdasarkan pengamatan pengembang). Baru beberapa guru yang istilahnya “nyadar keamanan digital”. Lalu apa sih sebenarnya pengertian kemanan digital. Keamanan digital adalah perlindungan sistem digital. Bentuk perlindungan sistem meliputi computer atau perangkat sejenis dan jaringan yang digunakan. Melindungi dari apa ya?, tentu saja dari kejahatan elektronik yang pasti akan muncul, misal penyadapan informasi, pencurian, atau kerusakan alat atau data , serta dari gangguan atau penyesatan layanan yang diberikan. 


Gambar 1. Proses Transformasi Digital pada Pembelajaran


Proses belajar mandiri guru melalui aplikasi merdeka mengajar, secara langsung meningkatkan keterampilan guru. Bentuk bentuk keterampilan tersebut meliputi pencarian informasi, pengumpulan informasi, menyajikan informasi dalam bentuk grafis dan masih banyak lagi keterampilan lainnya.

Tentang kurikulum merdeka, apakah dapat dikuasai oleh guru dengan baik? Teknologi digital memiliki peran penting sebagai tulang punggung pendidikan Indonesia. Salah satunya dalam proses sosialisasi kurikulum merdeka ini. seluruh materi kurikulum merdeka mulai dari latar belakang, proses pembelajaran sampai dengan perangkat ajar dimasukkan ke dalam aplikasi merdeka mengajar atau biasa disebut dengan PMM. Semua materi kurikulum merdeka diubah menjadi sebuah media digital, dan diunggah melalui PMM. Dan guru dapat menikmati materi materi kurikulum secara online baik menggunakan laptop ataupun android. Keberadaan infrastruktur digital merupakan keniscayaan sebagai prasyarat perubahan fase Pendidikan secara milenial. Dengan adanya PMM, maka penyebaran informasi tentang kurikulum merdeka dapat menjangkau seluruh wilayah NKRI dan kehadirannya dapat dirasakan oleh setiap insan Pendidikan. Suatu hal yang selama mungkin belum terbayangkan oleh kita bersama. Betapa cepatnya informasi dapat tersampaikan ke seluruh pelosok negeri.

Seluruh informasi telah tersedia dengan baik di aplikasi merdeka mengajar. Bagaimana guru dapat memanfaatkan aplikasi pembelajaran yang telah disediakan oleh kemdikbudristek ini? setelah  para guru meningkat keterampilan literasi digitalnya, secara berangsur angsur akan mulai mempelajari kurikulum dengan baik. Seiring dengan tingkat kesulitan yang dihadapi oleh mereka saat bekerja. Ingat nggih, berangsur-angsur, seperti “lilin yang dinyalakan sumbunya, kemudian meleleh perlahan lahan”. Dan bukan seperti “es yang mencair pada suhu nol derajat”.

Adapun yang perlu disiapkan oleh guru adalah tentang bagaimana mereka akan membelajarkan siswa di jaman milenial ini. Tentu saja guru harus membawa perangkat milenial ke dalam kelas. Sebagaimana disajikan pada gambar 1. Komponen utama proses pembelajaran digital ada 2, yaitu proses pembelajaran digital dan media pembelajaran digital. Media pembelajaran digital, oleh kemdikbudristek telah dibuatkan aplikasi pembelajaran elektronik merdeka mengajar. Disini semua perangkat ajar guru telah disiapkan, mulai capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, modul ajar dan sampai dengan asesmennya.

Tentang proses pembelajaran digital, disini guru terus terang harus berlatih lagi secara mandiri. Siapa teman berkaryanya? Secara kolegial tentu saja. Di beberapa negara seperti Jepang, USA, negara di ASEAN, meningkatkan keterampilan mengajar secara kolegial. Continuous Profesional Development (CPD) merupakan strategi dasar yang dipilihkan oleh kemdikbudristek untuk meningkatkan keterampilan guru dalam mengajar. Komunitas belajar sangat disarankan untuk dibentuk. Peningkatan keterampilan guru, akan jauh lebih efektif. Disini guru berkembang bersama dengan koleganya. Mereka belajar bersama, saling berdiskusi tentang kekurangan dan kelebihan masing-masing strategi yang mereka miliki, kemudian berkolaborasi untuk mengembang proses pembelajaran digital supaya semakin efektif.

Gambaran tentang upaya guru meningkatkan keterampilan melalui komunitas belajar, disajikan pada gambar 2. Melalui gambar 2 dapat kita pahami bersama, bahwa proses belajar mandiri, merupakan salah satu komponen supaya CPD dapat berjalan lancar. Walaupun perangkat ajar digital dan ragam model pembelajaran elektronik melimpah sepertinya keterampilan guru tidak akan meningkat jika guru pasif dalam belajar. Tanpa upaya guru untuk meningkatkan kompetensinya secara mandiri, maka komunitas belajar hanya akan menjadi sebuah bangunan tanpa ruh. Sebuah komunitas hanya akan dinamis jika anggotanya aktif. CPD hanya akan berfungsi saat anggota dalam suatu komunitas menjadi seorang pembelajar, guru yang secara aktif selalu mencari informasi baru dan meningkatkan kompetensinya.

Itulah sebabnya guru harus tuntas dalam berproses secara mandiri melalui program pelatihan mandiri yang tersedia pada aplikasi merdeka mengajar (PMM).


Gambar 2. Peran Komunitas belajar


Keterampilan abad 21, merupakan suatu target utama yang ingin dicapai oleh kemdikbud ristek selain pengembangan karakter atau profil pelajar Pancasila. Mengapa? Karena keterampilan abad 21 merupakan kecakapan dasar yang harus dikuasai oleh anak anak jaman milenial. Goal utamanya tentu saja untuk menumbuhkan generasi problem solver. Kita menyiapkan anak anak kita supaya mampu membuat solusi atau suatu masalah pada zamannya. Adapun komponen keterampilan abad 21, yaitu berpikir kritis, kreativitas, berkomunikasi dan berkolaborasi. Dan keempat keterampilan dasar ini, rupanya juga harus dibudayakan juga pada pola pengembangan kompetensi guru. Dengan keterampilan guru dalam menerapkan 4C, tentu akan berpengaruh pula pada keterampilan guru untuk mentrasfer keterampilan 4C. 


Penutup

Nah guru, sekarang kita sudah sama-sama tahu bukan? Betapa perlunya bagi guru untuk segera menuntaskan pelatihan mandiri yang diikutinya di PMM. ”Upgrade” pengetahuannya tentang kurikulum merdeka sangat diperlukan supaya guru mampu mengimplementasikan di kelas dengan baik.  meng “upgrade” keterampilan guru  dalam menggunakan teknologi informasi secara bijak, juga sangat diperlukan. Karena  siswa perlu pendamping saat mereka membuka jendela dunia melalui perangkat belajar digital. Mereka tidak ingin dilarang saat mereka belajar untuk bertahan hidup pada masanya. Yuks guru, panjenengan ditunggu kontribusinya dalam menyiapkan siswa, supaya mereka mampu bertahan pada masanya.


Daftar Rujukan

-.2022. Buku Saku Tanya Jawab Kurikulum Merdeka. Jakarta: kemdikbudristek.

-.2022. Buku Saku Platform Merdeka Peran Literasi Digital di Masa Pandemik (2021). Jakarta: Kemdikbudristek.

Abdhul, Yusuf. 2022. Mengenal 4 Pilar Utama Digital Literasi. Yogyakarta: Deeppublish.

Chanchal Tyagi and Friend.2021. Continuous Professional Development of Teachers Educators: Challenges and inisiatives: India: Chaudary Charan Singh University.

Imania, KAN dan teman. 2019. Hybrid Learning Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Di Era Industri 4.0. Garut:  Jurnal PETIK Volume 5, Nomor 2.

Paul CM and Friends.2017.Digital Literacy for the 21st Century.USA: North Caroline State University.

Essaid El achary and friends. 2010. An Adaptive Learning Model Using Learner's Preference. Marakesh: Cadi Ayyad University.


×